BeritaKata Olimpian, Memanah itu Tidak Ada Ilmu Pasti, Berjuang Sampai Penghabisan

25 Februari 2023

JAKARTA, 25 Februari 2023 – Olimpian Hendra Setijawan, yang pernah berlaga di Olimpiade Barcelona 1992, berbagi tips dari pengalamannya bertanding bagi para junior yang sedang menapaki tangga prestasi.

Hendra mengatakan, untuk mencapai prestasi tertinggi, mental juara harus kuat. Pantang menyerah bagi atlet panahan sebelum pertandingan berakhir. Hal ini terjadi tatkala dirinya bertanding pada Sea Games 1993.

“Kala itu, atlet panahan dari Filipina sudah merasa menang dan di atas angin. Dia menembak anak panah terakhir sambil berjalan, seolah-olah mau mengatakan, saya sudah menang, tidak peduli lagi dengan anak panah terakhir. Dalam hati, saya bilang, tunggu kau. Lalu saya lesakkan anak panah terakhir, dan saya yang lolos. Dia kalah,” begitu kenang Hendra.

Dari pengalaman itu, dia belajar, kunci kemenangan seorang atlet panahan jangan sampai menyerah sebelum pertandingan berakhir. Tetap fokus dari satu anak panah ke anak panah yang lain. Karena hasil tidak mungkin mengkhianati proses.

Hendra juga berbagi tips lain. Atlet tidak mungkin tanpa menu latihan sehari. Latihan adalah sesuatu yang wajib dilakukan setiap hari. Jam terbang harus diperbanyak untuk mengenal karakter tembakan dan penguasaan lapangan.

“Idealnya 500 panah sehari. Itu yang sudah dilakukan negara-negara yang selalu berhasil meraih medali emas, seperti Korea dan Amerika Serikat. Kalau kita, rata-rata berlatih pagi dan sore. Total jumlah tembakan sekitar 200 – 300 panah sehari,” katanya.

Memanah juga, butuh ikhlas dan pasrah. Setelah atlet berdiri untuk siap menembak, semua pengalaman, keterampilan, dan ilmu dia gunakan. Tetapi, sejak sepersekian detik anak panah dilesakkkan, atlet harus iklas dan pasrah ke mana anak panah itu menancap.

“Memanah itu tidak ada ilmu pasti. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin, dari sisi tarikan, power, ketepatan membaca lapangan, bidikan, selanjutnya pasrah ke mana anak panah berlari dan menancap. Hanya Tuhan yang punya kehendak,” kata dia.

Hendra datang ke Lapangan Panahan Gelora Bung Karno dalam rangka mendampingi anaknya, Asiefa Nur Haenza, yang bertanding di divisi recurve putri pada ajang Seleksi Nasional Tahap I 2023. Asiefa lolos pada tahap selanjutnya dengan total skor 3022 dan berada di peringkat kelima.

 

https://www.indonesiaarchery.org/wp-content/uploads/2023/03/all-logo-copy.png

All contents © copyright Indonesia Archery. All rights reserved.