HomeCategoryCompetition

JAKARTA, 01 Maret 2023 – Bagus Gede Agus Yuditiawan atau Bagus mencintai cabang olahraga (cabor) panahan dari motivasi awalnya ingin mengumpulkan sebanyak mungkin piala dan medali. Motivasi itu pun akhirnya berkembang menjadi sebuah impian yang hingga kini masih terus dikejar. Apa sebenarnya impian Bagus itu?

Bagus tergolong terlambat mengenal panahan. Dia baru menekuni cabor itu pada kelas 1 SMP. Ceritanya cukup unik hingga Bagus akhirnya rutin berlatih panahan di Lapangan Buyung, Denpasar.

“Cita-cita saya waktu kecil itu ingin mengumpulkan sebanyak-banyaknya piala dan medali. Cuma tidak mungkin dari prestasi akademik, saya tidak pernah rangking. Sekali waktu saya bermain ke rumah tetangga. Saya lihat di sana satu lemari penuh tropi. Satu keluarga itu semuanya atlet, ada atlet renang, panahan. Saya lalu ikut panahan,” ujar dia melalui sambungan telpon, pada Rabu (01/03/23).

Tepatnya 1 Januari 2016, Bagus mulai berlatih panahan. Dua bulan berikut, Bagus langsung berlaga di kejuaraan Walikota dan berhasil meraih juara tiga untuk standar bow. Dari sana, Bagus mulai serius menekuni panahan dan satu per satu piala dan medali dia kumpulkan.

Pada Kejurnas Senior di Palangkaraya, Bagus bersama kedua rekannya, Gede Agus Pratyadi dan Gusti Fazli Kertinegoro, meraih emas untuk divisi recurve putra. Sejumlah prestasi lain juga dia raih, antara lain emas untuk divisi recurve putra di ajang Kejurprov Denpasar dan perak untuk ajang Walikota Cup 2020.

Dari standar bow, pada 2021, Bagus beralih ke divisi recurve. Berlatih dan tercatat sebagai atlet di Arrow Archery Club, Bagus ingin meraih mimpinya sekaligus impian dari sang ayah, yang biasa dia panggil Aji.

“Aji pingin lihat Bagus punya nama di kancah nasional, bahkan internasional. Aji pingin Bagus bisa membela Indonesia dan menjadi atlet pelatnas yang bisa membela Indonesia di kancah internasional. Impian ayah itu juga menjadi impian saya sekarang,” katanya.

Berlatih Sambil Kuliah

Saat ini, Bagus sedang menjalani kuliah dan mengambil jurusan Sistem Informatika di salah satu perguruan tinggi di Bali. Dia harus berbagi waktu antara kuliah dan berlatih. Bagi dia, kedua-duanya sama penting untuk masa depannya.

Bagus bercerita, waktu latihannya memang sedikit terganggu dengan jadwal kuliah. Biasanya kuliah bisa sampai pukul 16.00, bahkan 18.00 malam. Jika hari sudah sore, dirinya tidak bisa berlatih di lapangan. Sebagai ganti, dia akan berlatih menembak di rumah dengan jarak sekitar lima meter.

“Kalau ada turnamen atau Seleknas, saya biasa minta pengertian kampus agar saya diberi waktu untuk berlatih. Satu minggu sebelum turnamen, saya akan berlatih penuh di lapangan untuk persiapan. Untuk tahap kedua ini, saya masih menanti surat rekomendasi dari Pemprov supaya bisa ajukan perizinan dari kampus,” katanya.

Bagus mengatakan, dirinya memang tidak melakukan persiapan yang optimal seperti atlet lain. Namun, dia tetap optimis dan akan memberikan yang terbaik di lapangan. “Saya akan berjuang semaksimal mungkin. Ini salah satu cara saya memenuhi impian saya. Apalagi bisa berlaga di Olimpiade. Bagi saya itu bisa jadi satu pencapaian terbesar saya,” tutup dia.

Bagus adalah satu-satunya atlet putra asal Bali yang tersisa di Seleksi Nasional PB Perpani tahap kedua. Dari perolehan total skor sementara, dia menempati rangking sembilan dari 11 peserta putra divisi recurve lainnya.

Bring to the table win-win survival strategies to ensure proactive domination. At the end of the day, going forward, a new normal that has evolved from generation X is on the runway heading towards a streamlined cloud solution. User generated content.

https://www.indonesiaarchery.org/wp-content/uploads/2023/03/all-logo-copy.png

All contents © copyright Indonesia Archery. All rights reserved.