BeritaAmbisi Yang Tertunda, Ini Kata Atlet Panah Elit Dunia Soal Shanghai

15 Mei 2023

LAPORAN DARI SHANGHAI

Setelah hasil di Turki, para atlet, termasuk Tim Merah Putih, memiliki ambisi masing-masing. Ada yang sama sekali tidak puas dengan hasil di Turki dan bertekad untuk memperbaiki prestasi di Shanghai. Tetapi, ada juga yang ingin mempertahankan dominasinya.

SHANGHAI, 15 Mei 2023 – Para atlet panahan dunia telah hadir di Stadion Yuanshen, Shanghai, China untuk menjalani latihan percobaan dengan beragam pendapat. Hyundai Archery World Cup Stage (AWCS) 2 secara resmi baru akan berlangsung pada Selasa (16/05/23) besok. Hari ini merupakan yang terakhir bagi para atlet untuk beradaptasi dengan kondisi lapangan dan cuaca di Kota Shanghai.

Marcus D’Almeida, world number one recurve putra, menyatakan ekspresinya dengan singkat ketika menjejalkan kakinya di Stadion Yuanshen. “Latihan pertama di Shanghai. Saya kembali lagi ke sini setelah delapan tahun.”

Sebelum terbang ke Shanghai, D’Almedia sempat menjalani seleksi nasional di Brasil. Sebagai world number one, dia masih menjadi yang terbaik di negeri Samba. Dia bakal menjadi atlet panahan yang mewakili Brasil dalam berbagai turnamen internasional, termasuk di World Cup.

“Bukan hasil yang saya inginkan, tetapi saya akan melanjutkan pekerjaan dan memberikan yang terbaik untuk Brasil,” tulis dia mengenang hasil di World Cup Stage 1 di Turki, bulan lalu.

Nada yang sama diungkapkan world number one recurve putri, Katharina Bauer. Karena kurang maksimal di Turki, posisinya sebagai world number one baru saja digeser oleh Penny Healey.

Dia menegaskan, setelah hasil yang kurang memuaskan di Turki, dia lantas segera mempersiapkan diri untuk bertanding di Shanghai.

“Satu minggu untuk persiapan yang intens sebelum berangkat ke China untuk Archery World Cup. Saya berada di peringkat 17 untuk perseorang di Turki dan peringkat delapan untuk tim. Hasil itu memang tidak sesuai dnegan ekspektasi. Tetapi, saya siap bertanding kembali di AWCS 2 di China,” katanya.

Lisell Jaatma, yang menduduki peringkat enam dunia compound putri, terlihat di antara atlet-atlet lain yang menjalani unofficial practice. Dia cukup terganggu dengan terik yang menyengat.

Menurut catatan cuaca setempat, panas di Kota Shanghai saat ini mencapai 35 derajad celsius. Namun, Lisell Jaatma tidak mau kehilangan kesempatan dan tetap menjalani sesi latihan bebas itu. “Cuaca sangat panas, sebuah tantangan untuk bertanding di sini,” keluhnya.

Jawara compound putra pada World Cup Stage 1 di Turki, Josef Bosansky, cuma berkata singkat, “unofficial practice.” Dia menyibukkan diri dengan busur dan anak panahnya. Membidik satu per satu anak panahnya sesuai instruksi official pertandingan dari pengeras suara.

Laura van der Winkel, peringkat sembilan dunia saat ini, mengatakan, sudah tidak sabar untuk bisa bertanding di Shanghai. Tekad itu mengacu pada hasil di Turki pada akhir bulan lalu. Laura berhasil menjejaki babak final, tetapi harus puas tanpa medali setelah kalah dalam perebutan medali perunggu.

“Sesuatu yang luar biasa untuk bisa kembali bertanding di final. Memang bukan hasil terbaik tanpa medali di tangan pada World Cup Stage 1 di Turki. Tetapi, saya menikmati setiap detik dari pertandingan dan tidak sabar untuk kembali bertanding di Shanghai,” imbuhnya.

Sementara itu, Ella Gibson, world number one compound putri, belum memberikan statement sama sekali untuk Shanghai. Tetapi, dia sangat penasaran untuk bisa tampil terbaik di tahun ini. Bagi dia, tahun lalu merupakan salah satu tahun terbaik dalam kariernya sebagai pemanah profesional.

“Setiap tahun saya menetapkan tujuan, untuk medali yang ingin saya rebut, untuk rekor baru yang ingin saya pecahkan, untuk rangking dunia. Tahun lalu menjadi tahun luar biasa dari yang bisa saya capai, di luar ekspektasi saya, dan sederhananya saya tidak bisa berkata apa-apa. Banyak prestasi yang sudah saya raih di tahun kemarin dan menjadi world number one. Dan tak dapat dipercaya, Inggris Raya menjadi semakin lebih kuat, dan saya bangga menjadi bagian dari itu. Saya tidak tahu apa yang akan diberikan 2023, tetapi saya siap untuk menjalani tahun ini,” tekad dia.

Di antara para atlet panahan dunia yang turun ke lapangan, tak ketinggalan 16 atlet panahan Indonesia juga turut serta dalam unofficial practice pada hari ini. Diawali dengan briefing bersama, timnas panahan Indonesia berbaur dengan atlet panahan dunia di lapangan.

Hari ini terhitung untuk kedua kalinya atlet panahan Indonesia hadir di Stadion Yuanshen. Setelah tiba di Shanghai pada Sabtu (13/05/23), Tim Merah Putih langsung menjejakkan kaki ke stadion tersebut pada sesi unofficial practice, Minggu (14/05/23) kemarin.

Setelah hasil di Turki, para atlet, termasuk Tim Merah Putih, memiliki ambisi masing-masing. Ada yang sama sekali tidak puas dengan hasil di Turki dan bertekad untuk memperbaiki prestasi di Shanghai. Tetapi, ada juga yang ingin mempertahankan dominasinya.

Bukan sesuatu yang mudah, karena sebagai tuan rumah, China tentu saja tidak mau kalah. Hasil cukup signifikan yang dicapai pada AWCS 1 di Turki menunjukkan China bakal akan tampil habis-habisan. Lagipula, Korea Selatan juga tidak akan tinggal diam. Sebagai negara adidaya di panahan, mereka tak akan menyerah begitu saja.

Siapa bakal menjadi pemenang di Shanghai?

https://www.indonesiaarchery.org/wp-content/uploads/2023/03/all-logo-copy.png

All contents © copyright Indonesia Archery. All rights reserved.